Arsip Berita -> Berita

Berita

Tanggal : 2018-12-19 | Waktu : 15:27:23
UIN SU GELAR SEMINAR INTERNASIONAL PENGUATAN NASIONALISME

Medan, (UIN SU)

Universitas Islam Negeri Sumatera (UINSU)  melaui Fakultas Ilmu Sosial menggelar seminar internasional bertema penguatan nasionalisme, cegah radikalisme di Hotel Garuda Plaza Jalan Sisingamangaraja Medan, Sabtu (15/12). Ditegaskan dalam pertemuan itu, menilik sejarah perjuangan bangsa, maka mustahil muslim yang mayoritas di negeri ini mengkhianati Pancasila.


Demikian dijelaskan Rektor UINSU, Prof Dr KH Saidurrahman, MAg dalam paparannya di seminar tersebut. Ia menilai, nasionalisme perlu dikuatkan kembali sebagai upaya pencegahan tindak radikalisme. Di perjalanan sejarah, Indonesia dengan keragamannya merupakan berkah yang harus dijaga semangat nasionalisme dan semangat persatuan dalam balutan Pancasila.

“Orang Indonesia harus mensyukuri keberagaman dan hal-hal di bumi Indonesia ini. Kita yakini, Pancasila sebagai rahmat Allah dan sebagai hadiah yang mempersatuan segala perbedaan dan keragaman yang ada. Maka mustahil bagi muslim untuk mengkhianati Pancasila,” tegasnya.


Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan meraih kemerdekaan ini bukanlah perjuangan sembarangan. Melainkan kerja jihad pada ulama dan para syuhada di masa lampau. Untuk itu, ia menilai penting bagi generasi untuk tetap menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur bangsa di antaranya persatuan dalam keberangan yang telah disimpulkan para pendahulu dan pendiri bangsa ini.


Ia menyampaikan, menjaga persatuan dengan menguatkan nasionalisme bangsa perlu dengan terus menjaga, merawat dan mengamalkan nilai-nilai konsensus nasional. Yiatu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI yang berharga mati.  Ia menilai, walau saat ini Pancasila kita sedang tergugat akibat radikalisme dan paham lain yang mengancam persatuan perlu dilawan dengan menjaga konsensus nasional. “Kita wajib menjaga konsensus nasional,” paparnya.


Selain itu, ada banyak tantangan untuk mewujudkan hal itu, di antaranya mulai lunturnya persaudaraan dan persatuan anak bangsa dan menguatnya komunialisme atas nama suku atau agama. Lalu menguat pula paham radikal yang ingin menggangu konsensus nasional, lalu lemahnya kualitas SDM yang dijadikan alasan mengambil TKA dalam jumlah besar hingga kaburnya visi nasional, yaitu memberikan kesetaraan kesejahteraan dan kemakmuran. Ia menilai adanya eksploitasi kekayaan bangsa untuk kepentingan individu dan kelompok.

Ia menilai, menghadapi dan melawan itu perlu dengan merawat konsensus negara tersebut. Yang dibangun di semua lini, baik pemerintah, lembaga hingga di setiap keluarga di negara itu. Pada kesempatan itu, sebagai bentuk kontribusi dalam menjaga  dan merawat Pancasila dan NKRI, Prof Saidurrahman bersama rekan menulis buku Pendidikan Kewarganegaraan : NKRI Harga Mati yang bisa dipelajari masyarakat. Dijelaskan bahwa Pancacila adalah kristalisasi nilai universal agama.

Perlu setarakan kesejahteraan


Prof Said juga menjelaskan, radikal di negara ini yang kian marak juga disebabkan lemahnya negara dalam menciptakan kesetaraan atau kemerataan kesejahteraan. Sedikitnya, ia memaparkan tiga faktor lahirnya radikalisme. "Lemahnya negara dan belum sepenuhnya mampu menyejahterakan rakyat. Ketidaksetaraan kesejahteraan memicu radikalisme, lalu masuknya paham transnasional dari luar yang tidak memahami budaya dan nilai luhur bangsa kita. Lalu masalah Pancasila yang saat ini kerap dijadikan dokumen sejarah dan tidak lagi mampu menjadi titik temu komponen bangsa," paparnya.


Kendati demikian, ia tetap yakin, bahwa nilai-nilai luhur Pancasila yang telah melewati proses panjang dalam cerita sejarah dapat diyakini sebagai anti-virus dalam menekan dan melawan radikalisme. Pancasila yang sesuai dengan nilai-nilai agama, nilai luhur bangsa ditambah nilai kesukuan dan budaya bangsa. Jangan sampai ideologi Pancasila berbenturan dengan ideologi Islam yang 'ngotot' dengan konsep khilafah, padahal dalam Pancasila merepresentatifkan nilai keislaman yang kuat. "Bukan berarti kita yang Islam NKRI tidak lebih baik atau tidak lebih Islam dari Islam khilafah," jelasnya.


Narasumber selanjutnya, Dicky Sofjan, PhD dari Core Doctoral Faculty dari ICRS dalam paparannya menyampaikan, dalam menekan radikalisme dapat dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya membuat warning system untuk mencegah gesekan dan konflik. Kemudian dicegah dengan ilmu dan teknologi kita saat ini. "Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dibanyak negara, ini tentu bisa dilakukan dan diwujudkan," tandasnya.

Walau ia menilai, ada hambatan dan kendala untuk mewujudkannya khususnya di tengah masyarakat Indonesia yaitu anti-intelektualisme. Konsep anti-intelektualisme yang ia dalami ini disinyalir menyebabkan masyarakat enggan lagi untuk berpikir kritis dan menentang berbagai prinsip dasar di masyarakat. Hal inilah yang dinilai membuat agenda radikalisme ini kian mulus masuk ke tengah masyarakat kita. "Persatuan itu penting untuk menghimpun kekuatan. Kita kuat kalau bersatu, kita lemah kalau bercerai berai. Makanya, narasi tentang keindonesiaan ini harus terus dijalankan dan ditanamkan," jelasnya.


Ia juga mengkritik, bahwa di negara ini tidak seimbang antara pembangunan manusia dengan pembangunan hal-hal yang bersifat material. Pembangunan fisik seperti pembangunan infrastruktur memang penting, tapi pembangunan manusianya juga lebih penting. "Pengembangan manusia itu paling penting. Namun yang terlihat saat ini tidak ada keseimbangan antara antara material development dengan human development," tandasnya.


Narasumber berikutnya, Prof Mark Woodward dari Center For the Studi Religion and Conflict Universitas Negeri Arizona pada kesempatan itu memberikan paparan terkait kejahatan ekstrimis dan cara untuk melawan serta mencegah itu. Turut hadir pada dekan dan wakil dekan di lingkungan UINSU serta para pimpinan kampus Islam di Sumut dan beberapa daerah lain seperti Aceh. (humas)